Untukmu, yang Diam Tapi Menanggung Banyak
Potret Ibuku Siti Iswuri
Ada sejuta kekesalan yang tertahan di balik senyumnya. Tentang sikap orang-orang yang tak kunjung sadar akan kelakuannya sendiri, tentang peran-peran yang tumpang tindih menyesaki waktu dan pikirannya. Tentang keinginan untuk berteriak, tapi yang bisa dilakukan hanyalah diam, tercekat. Bukan karena tak tahu harus berkata apa, tapi karena terlalu banyak yang ingin diucap, hingga akhirnya memilih untuk diam saja. Ibuku. Sosok yang mungkin tampak tenang di luar, tapi siapa sangka, menyimpan gelombang di dalamnya.
Ia adalah ibu dari enam anak perempuan—tanpa satu pun laki-laki yang lahir dari rahimnya. Ia menjalani semua peran nyaris tanpa jeda: sebagai ibu, sebagai pendidik, sebagai penjaga rumah, dan kadang juga sebagai penghibur bagi diri sendiri. Suaminya—ayahku—pada satu titik memilih jalan berbeda, memeluk keyakinan lain tanpa penjelasan yang memadai. Hanya kilasan cerita masa kecil yang rumit, kisah karier yang bergelombang, dan luka-luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Lalu, bagaimana dengan ibu? Ia tidak pernah menuntut. Tidak menyalahkan. Tidak membantah takdir. Ia hanya berjalan terus, pelan tapi pasti. Menjaga keenam anak perempuannya tetap sekolah, tetap makan, tetap tumbuh—walau keuangan semakin menipis, dan masa depan tampak samar.
Mungkin ada saat di mana ia bertanya dalam hati, “Mengapa tak ada satu pun anak laki-laki yang lahir dariku?” Mungkin ia pernah bertanya, “Haruskah aku ikut berpindah keyakinan demi cinta?” Tapi pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah ia utarakan. Hanya terjawab lewat tindakan yang tenang dan pengabdian yang tak bersyarat.
Aku membayangkan—seandainya aku jadi dia saat itu, mungkin aku akan menyerah. Tapi ibu tidak. Meski ia mengidap ambeien dan nyeri yang tak terhitung, tak pernah sekalipun kudengar ia mengeluh. Meskipun dapur kadang nyaris kosong, makanan yang ia sajikan selalu punya rasa istimewa. Mungkin karena ia memasaknya dengan cinta, bukan sekadar bahan.
Ia juga tidak pernah bangga berlebihan pada cucu-cucunya, hanya tersenyum dan memberi pelukan hangat. Ia tidak pernah menyombongkan anak-anaknya yang satu per satu menyandang gelar sarjana. Ia tidak menggugat pilihan suaminya—meskipun itu membuat ia harus merefleksikan kembali tentang keimanan, padahal ilmu agamanya mungkin tak setebal perempuan-perempuan lain yang rajin mengaji. Ia merawat suaminya saat sakit kanker dengan kesabaran luar biasa. Bukan seperti dokter yang banyak menganalisa, tapi seperti suster yang hanya diam dan setia menemani. Diamnya bukan kekosongan, tapi keteguhan.
Dan suatu hari, anak bungsunya—aku—dengan gaya tengil bertanya sok tahu, “Bu, hapalan surat Al-Qurannya apa saja sih?” Ia tidak langsung menjawab, hanya tersenyum. Lalu, tak disangka di usianya yang ke-70, ia melantunkan Ayat Kursi dengan suara yang tenang namun menggema di hatiku. Ternyata itulah rahasia dari semua diamnya. Ia tak pernah merasa sendiri, karena ia selalu bersama Ayat Kursi. Bersama Allah.
Itulah bekalnya. Takwa. Ibuku, Siti Iswuri. Ia memang tak pernah pergi ke Tanah Suci untuk berhaji atau umrah. Tapi cara hidupnya—sikapnya, cintanya, ketabahannya—seperti anusia mabrur yang setiap langkahnya mengarah ke Allah. Ia tak meninggalkan nama besar, tapi ia meninggalkan rasa yang mengkristal.
Cahaya itu masih terpancar. Terang. Menuntunnya menuju Surga. Aamiin.
#Undangan Babak Baru
#artikel E book Isnurin Bonowiyati
#trainer Productivity and Communication Specialist
#Ardhana EO training n Outing