Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

APAPUN EMOSINYA, IA HADIAH SPESIAL UNTUKMU


APAPUN EMOSINYA, IA HADIAH SPESIAL UNTUKMU

Terima emosimu dulu , Bertindaklah kemudian.

 

Pagi itu, Rin duduk sendiri di sudut rumahnya. Secangkir kopi hangat ada di tangan, tapi pikirannya tidak benar-benar di situ. Ada yang ramai di dalam. Bukan suara orang, tapi suara rasa.

Aneh, karena tidak satu rasa. Banyak.

Ada tenang, tapi tipis.

Ada sedih, tapi belum jelas sebabnya.

Ada rindu, yang datang tiba-tiba.

Dan entah kenapa… ada juga kesal yang tidak punya alamat.

“Hidup ini kok rasanya seperti cuaca, ya…” gumamnya pelan.

Kadang sejuk, seperti angin pagi yang menyentuh lembut.

Kadang mencekam, seperti langit mendung yang belum tentu hujan tapi sudah membuat hati gelisah.

Kadang ramai, seolah dunia memperhatikan.

Kadang sepi, seperti tidak ada yang benar-benar melihat.

Hari ini, semua cuaca itu hadir bersamaan.

Rin menarik napas. Biasanya, kalau seperti ini, ia akan mencoba “merapikan” semuanya. Menguatkan diri. Mengusir yang tidak enak. Mengalihkan dengan kesibukan.

Tapi hari ini tidak.

Hari ini ia memilih diam.

Ia mencoba melihat satu per satu.

“Ini apa ya…” katanya dalam hati.

Sedih itu muncul lagi. Kali ini lebih terasa.

Rindu ikut menyusul.

Lalu… marah kecil yang selama ini tidak diakui, ikut muncul ke permukaan.

Rin sedikit terkejut.

“Oh… ternyata ada ini juga.”

Selama ini ia pikir marah itu harus dihindari. Tidak baik. Harus ditekan. Tapi justru karena ditekan, marah itu berubah bentuk. Kadang jadi sinis. Kadang jadi diam yang dingin. Kadang… jadi lelah yang tidak jelas.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Rin tidak buru-buru menolak.

Ia hanya mengakui:

“Aku sedang marah.”

Aneh, tapi justru terasa lebih ringan.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada tindakan kasar.

Tidak ada kata-kata yang menyakitkan.

Karena marah itu… masih di level emosi.

Belum jadi tindakan.

Dan di situlah Rin mulai sadar sesuatu yang belum pernah benar-benar ia pahami sebelumnya.

Emosi itu aman… selama belum berubah jadi tindakan yang merusak.

Ia tersenyum kecil.

“Berarti selama ini aku salah ya… bukan emosinya yang bahaya. Tapi apa yang kulakukan setelahnya.”

Pikirannya mulai jernih.

Ia melihat lagi satu per satu.

Marah… ternyata memberi tahu bahwa ada yang tidak adil.

Sedih… memberi tahu bahwa ada yang berharga.

Rindu… memberi tahu bahwa ia pernah benar-benar peduli.

Bingung… memberi tahu bahwa ia sedang belajar.

Semua rasa itu… bukan musuh.

Tapi pesan.

Dan selama ini, ia terlalu sibuk menolak pesan-pesan itu.

Tidak heran kalau akhirnya menumpuk.

Hari itu, Rin tidak mencoba menyelesaikan semuanya.

Ia hanya duduk.

Membiarkan semua rasa lewat… seperti awan.

Datang… lalu pergi.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri. Tidak dengan perasaan yang langsung bahagia. Tapi lebih… ringan. Lebih lapang.

Ia mengambil sajadah.

Tanpa banyak kata, ia sujud.

Di situ, untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar melepas.

“Aku tidak harus mengendalikan semuanya…”

Kalimat itu terasa dalam.

Selama ini ia pikir, menjadi baik berarti harus selalu rapi, selalu stabil, selalu benar dalam merasa dan bertindak.

Ternyata tidak.

Menjadi manusia… berarti siap menghadapi badai rasa.

Dan menjadi kuat… bukan berarti tidak punya emosi.

Tapi tahu kapan mengelola,

dan kapan berserah.

Setelah selesai, Rin tidak langsung membuat keputusan besar. Tidak juga menyusun rencana hidup yang rumit.

Ia hanya melakukan satu hal sederhana.

Membersihkan meja.

Lalu berjalan kecil selama 10 menit di halaman.

Gerak ringan, tapi terasa mengalirkan sesuatu.

Seperti debu yang pelan-pelan disapu.

Ia tersenyum lagi.

“Hari ini aku tidak harus menyelesaikan semuanya.”

“Cukup mengenali… membersihkan sedikit… lalu isi dengan yang baik.”

Langit masih sama. Tidak langsung cerah. Tapi tidak lagi terasa menekan.

Rin paham sekarang.

Hidup ini memang akan terus berganti cuaca.

Emosi akan selalu datang dan pergi.

Tapi selama ia tahu bahwa semua emosi adalah aset, bukan ancaman…

selama ia ingat bahwa emosi hanyalah awal, bukan akhir…

maka ia tidak perlu takut lagi pada emosi yang datang , Karena yang menentukan bukan apa yang ia rasakan. Tapi… apa yang ia lakukan setelahnya.

Dan hari itu, ia memilih satu hal sederhana: tidak merusak diri sendiri. Sisanya… ia serahkan pada Nya.

 

#Isnurin Bonowiyati

#Emosi dan Produktifitas
 


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp