Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

Sibuk Ngerespon Drama atau Fokus Selesaikan masalah Sebenarnya?


Sibuk Ngerespon Drama atau Fokus Selesaikan masalah Sebenarnya?

 

Review mode berpikir kita yuk

seberapa tenang kita dalam merespon sebuah kejadian.

“Yang kita hadapi ini benar-benar masalah…

atau cuma drama yang dibesarkan oleh cara kita berpikir?”

Coba deh jujur sebentar.

Kalau ada orang datang telat 15 menit ke meeting, menurut kita dia seperti apa?

Ada yang langsung bilang, “Gak disiplin.”

Ada yang merasa, “Kurang menghargai.”

Ada yang santai saja, “Ya biasa…”

Ada juga yang berpikir, “Mungkin ada kendala.”

Menarik ya…

Satu kejadian. Tapi muncul banyak pendapat, banyak nilai, bahkan banyak rasa.

Artinya sederhana:

yang berbeda bukan kejadiannya… tapi cara kita melihatnya.

Belum lagi kalau yang telat itu atasan.

Tiba-tiba semua berubah.

Yang tadi kita nilai “tidak disiplin”, bisa jadi “pasti ada urusan penting.”

Yang tadi bikin kesal, berubah jadi maklum.

Di situ kita mulai sadar…

ternyata kita tidak selalu melihat fakta.

Kita sering melihat versi kita.

Dan versi itu dipengaruhi banyak hal: pengalaman, kebiasaan, kondisi hati, bahkan siapa orang yang kita hadapi.

Semua pendapat tadi sebenarnya tidak sepenuhnya benar atau salah.

Yang lebih penting adalah:

seberapa tenang kita dalam merespon sebuah kejadian.

Karena jujur saja…

pikiran yang penuh bias itu melelahkan.

Dalam satu hari, kita dipenuhi begitu banyak pikiran.

Dan tidak semuanya membantu.

Apalagi kalau kita sedang lelah.

Sedang sakit.

Atau sedang banyak tekanan.

Hal kecil bisa terasa besar.

Hal netral bisa terasa negatif.

Hal biasa bisa terasa menyakitkan.

Di titik ini, penting sekali kita mulai mengenali apa yang sedang terjadi di dalam diri kita:

“Oh… ini aku lagi menyamaratakan.”

“Oh… ini aku lagi kebawa emosi.”

“Oh… ini aku lagi menilai terlalu cepat.”

Kesadaran kecil seperti itu mungkin terlihat sederhana…

tapi justru di situlah letak kekuatannya.

Karena saat kita sadar, kita punya jeda.

Dan di jeda itu… kita punya pilihan.

Mau tetap bereaksi cepat, terbawa emosi, bahkan “nabrak lampu merah”…

atau memilih berhenti sejenak, menarik napas, dan merespon dengan lebih tenang.

Dalam keseharian, momen seperti ini terjadi terus-menerus.

Saat customer marah.

Saat atasan memberi penilaian yang tidak enak.

Saat kita merasa tidak perform.

Saat anak tidak merespon kita.

Atau saat ada orang yang rasanya “kok ngomong terus ya…”

Kalau kita tidak sadar, semuanya terasa berat.

Semua jadi masalah.

Tapi kalau kita mulai mengenali cara kerja pikiran kita—

bahwa ada persepsi, ada kesimpulan, dan ada emosi—

kita jadi lebih bijak dalam merespon.

Tidak harus selalu benar.

Tidak harus selalu sempurna.

Tapi minimal… tidak menambah drama.

Karena seringkali…

yang membuat hidup terasa berat bukan hanya masalahnya,

tapi cara kita membesarkannya di dalam pikiran.

Jadi lain kali saat sesuatu terjadi, coba tanya ke diri sendiri:

“Ini benar-benar masalah…

atau aku sedang membuatnya jadi drama?”

Karena bisa jadi…

yang kita butuhkan bukan solusi yang lebih banyak,

tapi cara melihat yang lebih jernih.

Dan dari situ, hidup pelan-pelan terasa lebih ringan.

 

 

#Isnurin Bonowiyati

#Productivity Specialist

#Ardhana Human Development

#Ardhana Training dan Outbound


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp