Menjadi Biasa Itulah makna manusia
Dulu, aku pikir hidup penting selalu “luar biasa”. Berani ambil jalan berbeda …Break through, bombastis dan kritis se kritis kritisnya.
“Apa kabar hari ini?”
“Luar biasaaa!”
Itu jadi semacam salam wajib. Harus penuh prestasi, harus terlihat bersinar. Foto keluarga bahagia, status penuh hikmah, unggahan tentang kesalehan beribadah , unggahan mengunjungi lokasi , dan dunia popularitas mendapatkan komentar. Bahkan kecewa pun harus dramatis. Demo, protes, curhat keras-keras. Seolah kita bukan manusia normal , jika tidak ber”prestasi” dan tidak dianggap penting oleh manusia lainnya. Alhasil hidup untuk berlomba dan bersaing.
Pun pernah juga terbawa ambisi , Ingin dilihat hebat oleh anak, suami, bahkan Allah.
“Lihat aku, aku sudah kuat, sudah taat, sudah berusaha keras.”
Tapi makin dikejar, makin lelah. Lalu aku temui satu ayat yang meneduhkan:
“Dan janganlah kamu terlalu memaksakan dirimu, karena Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
Ternyata… menjadi biasa itulah tujuan kita diberi kesempatan hidup didunia. Karena dengan menjadi hamba yang biasa, kita akan paham yang luar biasa adalah ALLAH semata.
Menjadi biasa justru ruang terbaik untuk merasa cukup, hadir sepenuhnya, dan berproses dengan jujur. Andai saja aku sadar sejak dulu…
Tapi ya sudahlah, sadar sekarang juga sudah hadiah luar biasa.
karena respon yang luar biasa sejatinya adalah merespon dengan biasa.
Applaus luar biasa adalah hadiah tepi jurang , menjauhkan niat bergeser niat dan sering menimbulkan drama yang seolah olah adalah masalah utama, dan kesabaran justru terkuras di area perang diarea yang bergeser pula. Pun menyesal tak ada manfaatnya, pointnya ketika kita ingin memperbaiki memang diperlukan adanya kesalahan . dari luar biasa menjadi biasa. FIX IT.