Melepaskan, Tanpa Merasa Kehilangan
Punya anak, punya asset , punya nama. Punya karier pengalaman seabrek-abrek, hingga dengan percaya diri berkata, tak perlu belajar lagi sampai negeri cina , sudah kenyang asam garam hidup. Bahkan saat ini koleksi penderitaanku juga sudah banyak, berkali kali menyesal , marah dan kecewa juga sudah pernah terjadi.. jadi sudah cukup bekalku .
Tapi hidup ini unik. Ada masanya semua itu satu per satu perlahan menghilang:
anak menjauh tanpa memeluk
suami diam-diam berubah arah menjadi dirinya sendiri
karyawan tak lagi loyal,
harta terasa menipis dan tabungan terpakai
fisik tak lagi kuat,
wajah pun tak lagi segar seperti dulu.
Kita pun merasa sedih…
Padahal seringkali, rasa sedih itu hanya muncul karena ingatan pada masa lalu yang bahagia
merasa kehilangan karena dulu pernah punya,
merasa sakit karena dulu pernah sehat,
merasa miskin karena dulu pernah berkelimpahan,
merasa tak dianggap karena dulu pernah dielu-elukan.
merasa paling berpengalaman, karena hari ini banyak penderitaan
merasa paling sakti karena sudah digempur dengan berbagai peperangan
kenangan yang tak dikelola, bisa jadi jebakan kemelekatan.
mengenang tanpa terluka itu sebuah prestasi . Butuh latihan. Butuh keberanian untuk melepas dan menyadari bahwa semua yang “pernah jadi milik” kita… sesungguhnya hanya titipan sementara. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Cintailah apa yang ada di dunia sekadarnya saja, karena ia hanya pinjaman.”
(HR. Ibnu Majah)
Kini aku belajar:
Melepaskan bukan berarti tidak mencintai. Tapi justru bentuk cinta yang dewasa: menerima bahwa semuanya bisa pergi, dan aku tetap utuh. Dan saat melepaskan tak lagi terasa kehilangan, di situlah jiwa benar-benar utuh.