Maaf ya, Diri. Aku Terlalu Keras Padamu
Maaf ya, Diri…
Aku tahu, aku pernah terlalu keras padamu.
Suatu masa, aku menantang diri untuk kembali bersekolah. Belajar lagi, menggali ilmu tanpa henti, membaca berlembar-lembar, mengerutkan dahi demi menuntaskan tesis—di usia 40 tahun.
Suatu masa, aku membongkar gudang tua berdebu, menyulapnya menjadi kelas mungil tempat aku bisa mengajar, berbagi semangat dan pengetahuan.
Suatu masa, aku berenang tiap pagi, demi menjaga punggung yang nyerinya sering datang diam-diam. Usaha kecil agar tubuh tetap kuat, supaya bisa tetap berfungsi, tetap berguna.
Suatu masa, aku menggendong bayi perempuanku yang masih dua tahun. Menenangkannya, menyusuinya, agar ia merasa cukup dan nyaman dalam pelukku—walau diriku sendiri seringkali tak sempat merasa cukup atau nyaman.
Suatu masa, aku sibuk menyiapkan materi demi materi training, berkejaran dengan waktu, sementara logistik sering kacau, dan hidup sebagai ibu tiga anak sekaligus istri dalam kultur patriarki sering terasa seperti medan tempur tanpa ujung.
Dan saat itu aku berkata:
"Aku harus bisa."
"Aku harus sempurna."
Dalam semua peran. Dalam semua arena.
Disiplin menjadi nilai utama. Karena tanpa disiplin, mana mungkin seseorang bisa menjadi profesional? Aku tahu, mungkin aku tidak sempurna. Bahkan mungkin jauh dari apa yang disebut ahli. Tapi satu hal yang bisa kupetik hari ini adalah: keputusan untuk tetap berjalan, meski dengan lutut gemetar.
Aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tak pernah letih. Tapi justru tahu kapan harus berhenti sejenak dan berkata:
“Maaf ya, Diri. Terima kasih sudah sejauh ini. Kamu hebat. Kamu cukup.”