Aku Bukan Lagi Pengejar Target, Tapi Penjaga Makna
Mungkin ini adalah babak baru dalam hidupku. Sebuah fase yang tak lagi digerakkan oleh ambisi atau sekadar motivasi harian, tapi oleh makna yang lebih dalam.
Aku mulai menjauh dari pertanyaan, “Sudah capai apa hari ini?” dan lebih sering bertanya, “Sudah bermanfaat seperti apa hari ini?”
Termasuk saat menjadi ibu bagi anak gen Z, yang hidupnya dipenuhi istilah seperti toxic relationship, overthinking, dan krisis identitas digital. Aku tak ingin ikut-ikutan jadi ibu yang ikut toxic, apalagi ikut overthinking.
Alih-alih mengejar validasi sebagai ibu paling hebat, aku ingin jadi ibu yang hangat. Yang hadir. Yang mendengar, bukan menghakimi. Yang jujur, bukan sempurna.
Kini, aku bukan lagi pengejar target, tapi penjaga makna.
Dan ternyata… ini jauh lebih damai. Lebih membebaskan.
Lebih mendalam.