Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

5 surat untuk diri sendiri | e-book: Undangan Babak Baru #1


5 surat untuk diri sendiri

Oleh : Isnurin Bonowiyati

Trainer Produktifitas

 

1. Saat Gairah Redup, Tapi Hidup Masih Panjang

        Sekarang, anak-anak sudah tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan mandiri. Mereka tak lagi membutuhkan kehadiran fisik saya setiap hari. Di kantor pun, saya dikelilingi oleh rekan-rekan muda yang jauh lebih melek teknologi. Ada gap generasi di antara kami yang tak selalu mudah dijembatani. Komunikasi tak bisa dipaksa mengalir begitu saja.

       Pemikiran dan kekhawatiran yang dulu terasa berguna, kini seperti angin lalu. Pertanyaan klasik seperti, “Sudah makan belum?” atau “Bagaimana kesehatanmu?” mungkin hanya dibalas dengan diam. Diam yang katanya berarti: “Kalau nggak ada kabar, berarti baik-baik saja, Mah…”Lalu, untuk apa saya masih ada di sini? Apakah kehadiran saya sudah tak berguna lagi?

         Menengok kamar anak yang kini kosong, terasa seperti membuka lemari kenangan yang tak lagi bisa dipeluk. Dan sebagai seorang single mom, perasaan itu terasa dua kali lipat lebih sunyi. Lantas, buat apa saya tetap sehat, tetap menjaga penampilan, tetap bugar… jika tak lagi dibutuhkan?

Tapi…
Siapa bilang?

          Anak-anak, rekan kerja, bahkan dunia di sekitar kita—masih sangat membutuhkan kita. Hanya saja, bukan dalam bentuk yang dulu. Peran kita berubah. Bentuk perhatian kita pun ikut bergeser. Bukan lagi dalam bentuk kontrol, tapi dalam bentuk empati. Bukan lagi ingin “mengajari”, tapi percaya bahwa mereka mampu.

         Dan kita? Kita tak perlu bersaing dengan anak sendiri. Tak perlu membandingkan pencapaian kita di usia segini dengan langkah mereka yang sedang berlari kencang. Dunia mereka bukan dunia kita.         Kini, bentuk manfaat kita bisa hadir dalam bentuk yang lebih dalam: kehangatan. Kehangatan yang tak bisa digantikan teknologi. Kehadiran yang tak bisa diwakili oleh notifikasi. Kita bisa menyala kembali—bukan lewat pencapaian, tapi lewat keaslian diri.

       Hidup ini masih panjang. Bahkan saat gairah sempat meredup, kita bisa menyalakan nyala kecil dari hal-hal sederhana: hobi yang dulu sempat kita tinggalkan, kreativitas yang lama tertidur, atau sekadar menyeduh teh hangat sambil menulis untuk diri sendiri.

Karena hidup tidak menunggu yang paling kuat atau paling muda—yang paling kaya atau yang paling pintar , tapi yang paling hangat, paling tulus, dan paling otentik.

      Kita masih bisa bersinar, bukan karena kita serba bisa. Tapi karena kita benar-benar hadir—untuk diri sendiri.


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp