Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

Tidak Semua Keputusan Itu Buruk. Yang Paling Buruk adalah Tidak Memutuskan.


Tidak Semua Keputusan Itu Buruk. Yang Paling Buruk adalah Tidak Memutuskan.

 

"Kalau Anda melihat tim Anda hari ini, budaya kepemimpinan mana yang paling perlu sdiperkuat?"

 

 

Ruang rapat sudah penuh.

Semua data sudah dipresentasikan.

Semua risiko sudah dibahas.

Semua orang sudah menyampaikan pendapat.

Lalu seseorang bertanya pelan,

"Jadi... kita pilih yang mana?"

Ruangan mendadak hening.

Laptop dibuka kembali. Beberapa data diperiksa lagi. Jam dilirik.

Lalu terdengar kalimat yang mungkin tidak asing bagi kita.

"Kita pikirkan lagi minggu depan."

Semua mengangguk.

Rapat selesai.

Seminggu berlalu, masalahnya masih sama.

Sebulan kemudian, kompetitor sudah bergerak lebih dulu.

Ironisnya, bukan karena kita mengambil keputusan yang salah.

Tetapi karena kita tidak mengambil keputusan sama sekali.

 

Ketika target tidak tercapai, kita sering menyalahkan strategi.

Ketika pekerjaan terlambat, kita memperbaiki SOP.

Ketika hasil belum optimal, kita mencari sistem baru.

Padahal, bisa jadi yang sedang melemah bukan strategi, bukan SOP, dan bukan sistem.

Yang sedang melemah adalah budaya kepemimpinan kita.

Coba kita renungkan.

Mengapa begitu banyak orang masih menunggu instruksi?

Mengapa keputusan kecil pun harus menunggu persetujuan?

Mengapa semua orang sibuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang berani mengambil tanggung jawab?

Mungkin kita tidak sedang kekurangan orang pintar.

Mungkin kita sedang kekurangan budaya kepemimpinan yang mampu menggerakkan manusia.

Budaya itu tidak lahir dalam satu seminar.

Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Apakah kita sudah memberi teladan?

Karena orang lebih mudah meniru apa yang kita lakukan daripada mengingat apa yang kita ucapkan.

Apakah kita sudah memiliki ownership?

Berani berkata, "Mari kita selesaikan bersama," bukan sibuk mencari siapa yang salah.

Apakah kita sudah memiliki coaching mindset?

Lebih banyak membantu orang bertumbuh daripada sekadar menunjukkan kesalahannya.

Apakah kita sudah membangun kolaborasi?

Atau justru masih sibuk menjaga wilayah masing-masing hingga tujuan bersama terlupakan?

Dan yang terakhir...

Apakah kita berani mengambil keputusan?

Karena tidak semua keputusan akan sempurna.

Namun organisasi yang terus menunda keputusan sering kali kehilangan lebih banyak peluang daripada organisasi yang berani belajar dari setiap keputusan.

Di Ardhana kami percaya, perubahan kepemimpinan tidak dimulai dari jabatan.

Ia dimulai dari budaya kerja.

Framework kami sederhana:

Komitmen × Kesadaran × Tantangan.

Komitmen untuk menjadi teladan.

Kesadaran bahwa setiap sikap kita sedang membentuk budaya tim.

Keberanian menghadapi tantangan, mengambil keputusan, mengembangkan orang lain, dan membangun kolaborasi.

Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang membuat orang bergantung kepada kita.

Kepemimpinan adalah tentang melahirkan orang-orang yang suatu hari mampu berdiri tegak, mengambil keputusan, dan menggerakkan organisasi bersama.

Mungkin, itulah ukuran keberhasilan seorang pemimpin yang sesungguhnya.

______________

#CekBudayaKerjamu

Dari lima budaya kepemimpinan ini, mana yang paling perlu kita kuatkan di tempat kerja?

✔️ Keteladanan

✔️ Ownership

✔️ Coaching Mindset

✔️ Kolaborasi

✔️ Keberanian Mengambil Keputusan

#BarengArdhana

#Isnurin Bonowiyati Productifity Specialist v  

Mari menguatkan budaya kerja, satu kebiasaan baik setiap hari.


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp