Calming Speaking,Mungkin yang Perlu Kita Latih Bukan Public Speaking
Mengapa ada pidato yang penuh data tetapi cepat dilupakan.
Sebaliknya, ada percakapan sederhana yang terus diingat bertahun-tahun.
Ada yang menurut saya cukup ironis.
Semakin banyak orang belajar Public Speaking, semakin sedikit orang yang benar-benar bisa mendengarkan. Kita menghabiskan ratusan, bahkan ribuan jam untuk belajar berbicara. Berlatih presentasi, pidato, negosiasi, hingga memengaruhi orang lain. Namun tanpa sadar, kita lebih terampil menyampaikan daripada memahami.
Akibatnya, komunikasi sering berubah menjadi monolog yang bergantian.
Semua ingin didengar.Sedikit yang benar-benar mendengar.
Padahal, semakin saya belajar tentang komunikasi, saya justru menemukan sesuatu yang paradoks.
Mungkin masalah terbesar kita bukan karena tidak pandai berbicara. Mungkin kita belum cukup tenang sebelum berbicara.
Saya menyebutnya Calming Speaking. Bukan teknik berbicara.
Tetapi kemampuan menenangkan state diri sebelum kata-kata keluar dari mulut.
Karena kata-kata tidak pernah berjalan sendirian. Ia selalu membawa keadaan batin orang yang mengucapkannya.
Kalimat yang sama bisa terdengar sebagai motivasi ketika diucapkan dengan hati yang tenang. Namun kalimat yang sama bisa terasa sebagai tekanan ketika lahir dari hati yang penuh emosi.
Itulah sebabnya komunikasi bukan sekadar memilih kata. Komunikasi adalah membawa state.
Lalu bagaimana menyiapkan state yang baik?
Jawaban yang saya temukan justru sederhana.
Belajarlah mendengar. Bukan hanya mendengar lawan bicara. Tetapi juga mendengar diri sendiri. Mendengar emosi yang sedang muncul.Mendengar ego yang ingin menang.Mendengar rasa takut yang sedang bekerja.Mendengar hati yang sedang lelah.
Orang yang mampu mendengar sebelum berbicara biasanya tidak tergesa-gesa memberikan jawaban. Ia memberi ruang. Ia tidak merasa harus selalu menjadi orang yang paling benar.
Anehnya, justru orang seperti inilah yang akhirnya paling banyak didengarkan.
Mengapa?
Karena orang merasa aman di dekatnya.
Mereka merasa tidak sedang dihakimi.
Tidak sedang dilawan.
Tidak sedang dipaksa.
Mereka merasa sedang dipahami.
Saya mulai percaya, pendengar yang baik hampir selalu berkembang menjadi pembicara yang baik.
Sebaliknya, pembicara yang hebat belum tentu menjadi pendengar yang baik.
Dan komunikasi yang paling kuat bukanlah yang membuat orang berkata, "Wah, pembicaranya hebat."
Melainkan yang membuat orang berkata, "Lho... ternyata saya juga mengalami hal itu."
Di situlah keajaiban komunikasi terjadi. Topiknya tidak lagi menjadi masalah pribadi.
Ia berubah menjadi masalah bersama. Seorang pembicara yang berhasil bukan sekadar menyampaikan materi.
Ia mampu membuat setiap orang di ruangan merasa, "Saya tidak sendirian."
Mungkin itulah mengapa ada pidato yang penuh data tetapi cepat dilupakan. Sebaliknya, ada percakapan sederhana yang terus diingat bertahun-tahun. Bukan karena pilihan katanya lebih indah. Melainkan karena hati pembicaranya lebih dahulu hadir.
Hari ini saya tidak lagi terlalu sibuk mengejar kemampuan berbicara.
Saya justru ingin melatih sesuatu yang lebih mendasar.
Menjaga state sebelum berbicara. Mendengar sebelum menjawab.Memahami sebelum meyakinkan.
Karena komunikasi yang baik tidak dimulai dari mulut. Ia dimulai dari hati yang telah lebih dahulu tenang. Barangkali, inilah yang perlu kita latih bersama. Bukan hanya Public Speaking. Tetapi Calming Speaking.
Sebab ketika hati menjadi tenang, kata-kata tidak lagi dipakai untuk memenangkan perdebatan.
Melainkan untuk menghadirkan ketenangan, membangun kepercayaan, dan membuat orang merasa, "Masalah ini bukan hanya milikku. Ini adalah perjalanan kita bersama."
Dan mungkin, itulah alasan mengapa sebagian orang tidak perlu berbicara terlalu keras untuk didengarkan. Karena sebelum lisannya berbicara, ketenangan hatinya sudah lebih dahulu sampai kepada orang lain.
#Bicara dari hati
#Public Speaking Today.
#Isnurin Bonowiyati
#Productifity Specialist