PROYEK EGO
Bahkan keinginan untuk menjadi orang baik pun kadang bisa menjadi proyek ego yang sangat halus. Seolah-olah hidup adalah proyek besar untuk menghasilkan “versi terbaik dari diriku.”
Ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang bisa sibuk bekerja, mengurus keluarga, membantu orang lain, menjaga kesehatan, belajar, beribadah, bahkan melakukan banyak hal yang baik. Dari luar semuanya terlihat wajar. Tidak ada yang salah.
Tetapi di dalam dirinya, kadang ada sesuatu yang terasa berat.
Sedikit kecewa ketika tidak dihargai. Tersinggung ketika orang lain tidak mengikuti keinginannya. Gelisah ketika hasil pekerjaan tidak seperti yang dibayangkan. Kesal ketika sesuatu yang sudah direncanakan berubah. Pikiran kembali ke kejadian yang sudah lewat, mencari-cari apa yang seharusnya dilakukan berbeda.
Lalu muncul kalimat-kalimat kecil:
Seharusnya waktu itu tidak begitu.
Kenapa harus saya yang mengalami ini?
Kalau saja orang itu mengerti.
Saya harus memperbaiki semuanya.
Tanpa terasa, sebuah peristiwa yang sebenarnya sudah berlalu tetap hidup di dalam kepala.
Mungkin bukan peristiwanya yang terus membesar. Bisa jadi karena perhatian terlalu lama kembali kepada satu pusat: diri sendiri.
Menariknya, hal seperti ini juga bisa terjadi pada sesuatu yang baik.
Ada orang yang ingin menjadi atlet yang hebat. Ada yang ingin menjadi konsultan yang berhasil. Ada yang ingin jadi karyawan yang baik , menjaga kesehatan, rutin berolahraga, mengurus komunitas, membangun usaha, menjadi orang tua yang baik, atau memperbaiki kualitas ibadah.
Keinginan-keinginan itu tentu saja baik.
Tetapi di suatu titik, semuanya bisa berubah menjadi semacam proyek untuk membangun diri sendiri. Harus berhasil. Harus terlihat bagus. Harus diakui. Harus sesuai rencana. Harus mencapai gambaran diri yang sudah dibuat di kepala.
Bahkan keinginan untuk menjadi orang baik pun kadang bisa menjadi proyek ego yang sangat halus.Seolah-olah hidup adalah proyek besar untuk menghasilkan “versi terbaik dari diriku.”
Padahal mungkin kehidupan tidak sedang meminta seseorang menjadi versi tertentu dari dirinya. Ada pekerjaan yang perlu dikerjakan hari ini. Ada keluarga yang perlu ditemani. Ada teman yang perlu didengar. Ada orang yang membutuhkan bantuan. Ada tubuh yang perlu dirawat. Ada tugas yang perlu diselesaikan. Ada kesalahan yang perlu diperbaiki. Ada kesempatan untuk berbuat baik.
Sederhana saja.
Satu peran dijalani, lalu berganti dengan peran berikutnya.
Tidak semua harus menjadi pencapaian pribadi. Tidak semua harus menghasilkan pengakuan.
Tidak semua harus menjadi cerita tentang diri sendiri.
Mungkin memang begitulah kehidupan bekerja. Banyak orang hidup berdampingan, saling memengaruhi, saling membutuhkan, saling menghidupkan lingkungan masing-masing. Di rumah, di kantor, di komunitas, di antara teman-teman.
Satu orang menjalankan bagiannya, orang lain menjalankan bagiannya.
Dan semuanya berjalan dalam kehidupan yang jauh lebih besar daripada kepentingan satu orang. Di dalam keyakinan kepada Allah, bahkan peristiwa yang tidak kita sukai pun tidak berdiri sendirian. Ada kehidupan orang lain yang disentuh olehnya, ada pelajaran yang mungkin belum terlihat, ada jalan yang mungkin baru terbuka setelahnya.
Mungkin karena itu, tidak semua yang terjadi perlu terus disesali.Yang sudah terjadi, biarlah menjadi bagian dari perjalanan. Yang perlu diperbaiki, diperbaiki. Yang perlu ditaubati, ditaubati. Setelah itu, kehidupan tetap berjalan.
Barangkali yang perlu dijalani bukan proyek ego untuk terus-menerus membentuk, membuktikan, dan mempertahankan diri.
Melainkan kehidupan sebagai seorang hamba.
Di setiap peran. Di setiap pekerjaan. Di setiap keinginan.
Menjalankan bagian yang ada di hadapan mata, sebaik yang mampu dilakukan, sambil membiarkan Allah mengurus bagian yang memang bukan milik manusia.
Mungkin dengan begitu, hidup tidak lagi terasa seperti panggung untuk membuktikan siapa diri kita.
Hanya sebuah perjalanan panjang, tempat manusia menjalankan amanahnya masing-masing—dan, mudah-mudahan, saling menghidupkan.
Isnurin Bonowiyati
Perjalanan Melewati Makna
Productivity Specialist