Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

KAPAN SESEORANG LAYAK MENJADI KAPTEN?


KAPAN SESEORANG LAYAK MENJADI KAPTEN?

 

Bukan karena ia paling hebat, tetapi karena ia mampu membawa tim sampai tujuan.

Coba jawab jujur sebelum melanjutkan membaca:

•            Kalau kapal sedang menghadapi badai, apakah Anda tetap tenang?

•            Apakah anak buah mengikuti Anda karena takut, terpaksa, atau karena percaya?

•            Kalau ternyata arah kapal keliru, apakah Anda berani mengakui dan mengubah haluan?

•            Apakah Anda mampu mengendalikan diri sebelum mengendalikan orang lain?

•            Kalau suatu saat Anda tidak berada di kapal, apakah tim tetap mampu berlayar dengan baik?

Kalau beberapa pertanyaan itu membuat kita berhenti sejenak, mungkin memang ada sesuatu yang perlu kita pelajari.

Menjadi supervisor atau leader ibarat dipercaya menjadi kapten sebuah kapal.

Ketika mendapat mandat itu, yang berubah bukan hanya posisi kita. Tanggung jawab kita ikut berubah.

Sebelumnya mungkin kita cukup memastikan pekerjaan kita sendiri selesai dengan baik. Sekarang, kita harus memastikan kapal bergerak ke arah yang benar, awak kapal bekerja dengan baik, masalah bisa diatasi, dan tujuan bersama tercapai.

Kapten tidak harus menjadi orang yang paling pintar melakukan semua pekerjaan di kapal.

Ia tidak harus memegang semua kemudi, mengangkat semua barang, memperbaiki semua mesin, atau menyelesaikan semua persoalan sendirian.

Tetapi ia harus tahu ke mana kapal akan dibawa, bagaimana membaca situasi, siapa yang perlu digerakkan, kapan harus mendengar, kapan harus mengambil keputusan, dan bagaimana menjaga awak kapal tetap percaya kepada dirinya.

Begitulah leadership.

Leadership bukan sekadar kemampuan memberi perintah. Leadership adalah kemampuan memberi arah dan pengaruh.

Dan pengaruh yang kuat tidak lahir semata-mata dari jabatan.

Ia lahir dari keteladanan, konsistensi, keberanian, ketenangan, kemampuan mendengarkan, dan kesediaan mengambil tanggung jawab.

Bayangkan kalau kapal sedang diterpa badai, lalu kapten panik, marah-marah, menyalahkan awak kapal, dan sibuk mencari siapa yang menyebabkan masalah.

Apa yang terjadi?

Kepanikan kapten akan menjadi kepanikan seluruh kapal.

Karena itu, seorang leader harus belajar mengendalikan dirinya terlebih dahulu.

Mengendalikan ego. Mengendalikan emosi. Mengendalikan respons ketika berada di bawah tekanan. Berani mengakui kesalahan. Konsisten antara ucapan dan tindakan.

Dari sanalah tumbuh wibawa. Bukan wibawa karena jabatan, tetapi wibawa karena karakter.

Dan dari wibawa lahir kepercayaan. Ketika orang percaya kepada pemimpinnya, mereka lebih mudah diajak menghadapi tantangan, belajar dari kesalahan, dan melakukan sesuatu yang lebih besar bersama-sama.

Inilah yang membedakan pemegang jabatan dengan pemimpin perubahan.

Pemegang jabatan mungkin hanya memastikan pekerjaan berjalan.

Tetapi pemimpin perubahan membuat orang-orang di dalam kapal ikut tumbuh dan mampu berlayar lebih jauh.

Karena itu, ketika seseorang mendapatkan mandat menjadi supervisor atau leader, sebaiknya jangan hanya bertanya:

“Apa kewenangan saya sekarang?”

Tetapi tanyakan:

“Apakah saya sudah siap menjadi kapten?”

Siap memimpin diri sendiri.

Siap memberi arah.

Siap dipercaya.

Siap menghadapi badai.

Siap mengembangkan awak kapal.

Dan siap bertanggung jawab membawa kapal sampai tujuan.

Karena pada akhirnya,

menjadi kapten bukan tentang menjadi orang paling hebat di kapal.

Menjadi kapten adalah tentang membuat seluruh awak kapal mampu mencapai tujuan bersama.

Dan leadership yang sesungguhnya dimulai dari satu hal sederhana:

mulai memimpin diri sendiri, lalu menggerakkan lingkungan di sekitar kita untuk melakukan hal-hal yang lebih besar bersama-sama.

 

Leadership Training

Isnurin Bonowiyati

Productifity Specialist


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp